Home | Profil | Penelitian Kami | Publikasi | Prosiding | Kerjasama Penelitian | Sarana & Prasarana | Kontak Kami | Download | Galery

23-01-2017.022021 | Dilihat : 442 x
Penerapan Teknologi Agroforestry Kompleks Berbasis Pangan Sangat Mendesak

(Ciamis, 17/01/2017)_Dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi dan diversifikasi pangan, mewujudkan diversifikasi produk hutan dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan hutan, aplikasi teknologi agroforestri komplek – permanen berbasis pangan di dalam kawasan hutan mendesak untuk dilakukan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Murniati, Peneliti Pusat Litbang Hutan, Badan Litbang dan Inovasi dalam karya tulis ilmiahnya yang dipaparkan dalam Seminar Nasional Agroforestry 2015 di Gedung Bale Sawala Universitas Padjajaran, Bandung (Kamis, 19/11/2015).

Menurut Murni, panggilan dari Dr Murniati, ketahanan pangan dewasa ini sangat terkait dengan  jumlah penduduk yang terus meningkat sehingga menuntut penyediaan pangan dalam jumlah yang terus meningkat dan kualitas nutrisi yang baik. Namun realita yang terjadi, produksi pangan berfluktuasi dan sering menurun.

“Data Badan Pusat Statistik (2015) menunjukkan bahwa produksi padi tahun 2014 turun menjadi 70,8 juta ton gabah kering giling dari 71,3 juta ton pada tahun 2013,” kata Murni.

“Salah satu penyebabnya adalah luas lahan pertanian semakin terbatas yang ditunjukkan oleh luas panen padi dan palawija yang semakin menurun,” jelas Murni.

“Hal ini diduga karena upaya perluasan areal pertanian sulit dilakukan sementara konversi lahan pangan produktif untuk penggunaan lain seperti perumahan, gedung perkantoran, dan lain-lain terus terjadi”, kata Murni menambahkan.

Selanjutnya Murni menjelaskan bahwa permasalahan lainnya adalah ketersediaan sumberdaya air untuk mendukung produksi pangan semakin berkurang sebagai akibat kerusakan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS), persaingan penggunaan air untuk kebutuhan sektor lain dan rusaknya jaringan irigasi.

Dalam rangka upaya untuk mewujudkan kedaulatan pangan, Nawa Cita sebagai program kabinet kerja 2014 – 2019 menjabarkan lima dari sembilan Nawa Cita yang  terkait dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dimana tiga dari lima Nawa Cita berhubungan dengan Pembangunan Pedesaan, Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Air, serta Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Marginal.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui RPJMN 2015-2019 telah menjabarkan beberapa sasaran terkait dengan Pembangunan Pedesaan, Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Air, serta Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Marginal, yaitu :

1.     Peningkatan kemitraan dengan masyarakat dalam pengelolaan hutan melalui pola Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD) dan Hutan Rakyat (HR) serta Hutan Adat (HA) seluas 12,7 juta ha.

2.     Pemanfaatan lahan bawah tegakan seluas 250.000 ha.

3.     Penurunan luas lahan kritis seluas 5,5 juta ha.

4.     Identifikasi kawasan hutan yang akan diserahkan hak kelolanya kepada masyarakat marginal sedikitnya 4,1 juta ha.

Menurut Murniati, keempat sasaran di atas sesungguhnya memberikan ruang yang luas dan peluang untuk mengembangkan tanaman pangan, baik berupa tanaman semusim (padi dan palawija) maupun berupa pohon penghasil pangan atau pohon serbaguna seperti sukun, nangka, melinjo, dan lain-lain. Untuk mencapai target pengalokasian lahan tersebut, Murniati merekomendasikan pola agroforestry dalam implementasinya.

“Untuk mencapai target pengalokasian dan pemanfaatan lahan hutan tersebut dengan optimal, perlu didukung dengan teknologi peningkatan produktivitas berupa penerapan teknologi agroforestri komplek-permanen berbasis pangan,” ujar Murniati.

Lebih lanjut Murniati menjelaskan bahwa berdasarkan pengalamannya, penerapan agroforestry di dalam kawasan hutan biasanya terjadi dalam waktu yang relatif pendek.

“Sejauh ini, penerapan agroforestri, terutama di dalam kawasan hutan yaitu dalam pembuatan hutan tanaman, rehabilitasi kawasan hutan yang rusak, program Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) umumnya berlangsung dalam periode yang relatif pendek, dua sampai tiga tahun pertama penanaman pohon hutan. Sistem yang digunakan adalah agroforestri sederhana (tumpangsari), dengan menanam jenis tanaman semusim (umumnya palawija) diantara larikan tanaman hutan. Setelah tajuk tanaman pokok saling menutup, maka penanaman tanaman semusim diberhentikan dengan alasan produksi tanaman bawah sudah tidak optimal,” kata Murni .

Oleh sebab itu, Murniati menyarankan bahwa untuk meningkatkan dan menjamin keberlanjutan produksi pangan dan mata pencaharian masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan lahan hutan, seyogianya aplikasi agroforestri di dalam kawasan hutan dilaksanakan selama daur tanaman hutan dengan memperbanyak komponen biotik penghasil pangan sehingga terbentuk agroforesti komplek dan permanen berbasis pangan.

Selanjutnya Murniati menjelaskan agar teknologi agroforestri selama daur dapat diterapkan dengan optimal, maka jarak tanam tanaman pokok harus lebih lebar misalnya 6 m x 2 m atau 6 m x 4 m. Hal ini dimaksudkan untuk memberi ruang tumbuh yang cukup sehingga selain tanaman pangan semusim, jenis pohon penghasil pangan juga dapat ditanam untuk meningkatkan produksi dan diversifikasi pangan serta menambah sumber pendapatan masyarakat dari lahan hutan.

“Dapat pula disediakan larikan khusus untuk menanam tanaman pohon penghasil pangan tersebut, misalnya dengan perbandingan 2:1 yaitu dua baris tanaman hutan dan satu baris tanamann pohon penghasil pangan,” kata Murniati.

Menurut Murniati, berdasarkan pengalamannya di lapangan, maka seiring dengan meningkatnya naungan dari tanaman pokok dan atau tanaman pohon penghasil pangan, maka jenis tanaman bawah harus diganti dengan jenis-jenis tanaman pangan tahan naungan (shade tolerant species).

“Beberapa jenis tanaman bawah penghasil karbohidrat dan protein yang tahan naungan adalah umbi porang (Amorphopallus onchophillus Prain), ubi jalar (Ipomoea batatas L.), beberapa varietas padi gogo dan beberapa varietas kedelai.

“Produksi umbi tanaman porang yang ditanam di bawah tegakan damar (Agathis borneensis) kelas umur V (KU V) dengan intensitas cahaya rata-rata hanya 19% nyata lebih tinggi dibandingkan produksi umbi porang di bawah tegakan KU II dengan intensitas cahaya mencapai 71%,” kata  Murniati dalam laporan penelitiannya bersama Sumarhani (2013).

Lebih lanjut Murniati juga menjelaskan bahwa penelitian yang telah dilakukan oleh Mawarni (2011) menunjukkan kacang kedelai varietas Pangrango mampu toleran pada penaungan 70%, sedangkan varietas Anjasmoro mampu bertoleransi pada tingkat naungan 30 sampai 50%.

“Dua varietas baru kedelai tahan naungan yang dilaporkan oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang adalah Dena-1 dan Dena-2,” ujar Murniati menambahkan.

Menurut Murniati, dengan tersedianya beberapa varietas tanaman pangan semusim yang tahan naungan (dengan berbagai tingkatan intensitas), kesempatan untuk pemanfaatan lahan di bawah tegakan selama daur tanaman pohon untuk peningkatan produksi pangan semakin terbuka lebar. Namun ketersediaan benih di tingkat petani khususnya petani hutan, nampaknya masih memerlukan dukungan dan fasilitasi dari pemerintah.

Diinformasikan bahwa Pengelolaan Hutan melalui Pola HTR, HKm dan HD diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan berikut perubahannya berdasarkan PP N0. 3 Tahun 2008. Selanjutnya, pengelolaan hutan melalui pola HTR diatur pula dalam Permenhut P.55/2011 (yang terakhir) sebagai pengganti dari Permenhut P.23/2007 dan P.5/2008. Pengelolaan HKm diatur melalui Permenhut P.37/2007 berikut perubahannya P.18/2009 dan P.52/2011. Pengelolaan HD diatur melalui Permenhut P.49/2008, P.14/2010 dan P.53/2011.

Menurut pendapat Murniati, dari semua peraturan yang ada, pengelolaan hutan dengan pola HTR, HKm dan HD dapat dan atau dianjurkan untuk dilaksanakan dengan sistem agroforestri komplek - permanen berbasis pangan dengan menanam jenis pohon hutan berkayu sebagai tanaman utama yang dapat dicampur dengan jenis tanaman tahunan lainnya berupa jenis pohon serbaguna atau pohon penghasil buah atau getah.

“Agar konsep agroforestri komplek - permanen berbasis pangan dapat dilakukan pada pengelolaan hutan pola HKm, HD dan HTR yang berlokasi di dalam kawasan hutan negara, baik hutan produksi (untuk HKm, HD dan HTR) maupun hutan lindung (untuk HKm dan HD) dapat diaplikasikan, maka regulasi yang ada harus disempurnakan,” jelas Murniati.

“Penyempurnaan yang diperlukan terutama tentang jenis pohon serbaguna atau pohon penghasil buah atau getah dengan menambahkan “jenis pohon penghasil pangan”. Untuk tanaman bawah harus secara spesifik disebutkan “dapat menanam tanaman pangan” dengan menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi naungan pohon atau intensitas cahaya matahari yang masuk ke lantai hutan.

Sebagai penutup dalam artikelnya yang dipaparkan dalam Seminar Nasional Agroforestry 2015, di Gedung Bale Sawala Universitas Padjajaran, aplikasi teknologi agroforestri komplek-permanen berbasis pangan di dalam kawasan hutan dapat mendukung peningkatan produksi dan diversifikasi pangan serta diversifikasi produk hutan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. Teknologi agroforestri komplek permanen berbasis pangan berpotensi dikembangkan pada program Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa dan Hutan Tanaman Rakyat di dalam kawasan hutan negara, namun regulasi yang ada perlu disempurnakan.

 

 

  Judul Berita
Kontribusi BP2TA Ciamis dalam Peningkatan Kualitas SDM Siswa Siswi SMK Rimba Bahari Sumedang
Upacara Hari Kesaktian Pancasila Lingkup Balai Litbang Teknologi Agroforestry Ciamis
Pembahasan Rencana Operasional Penelitian Tahun 2017 Balai Litbang Teknologi Agroforestry
Pola Tanam Agroforestry Mampu Mengakomodir Kepentingan Lingkungan Dan Sosial Ekonomi
Penanaman Nyamplung pada Lahan Pantai Berpasir Memerlukan Teknologi Yang Tepat
Penerapan Teknologi Agroforestry Kompleks Berbasis Pangan Sangat Mendesak
Serah Terima Jabatan Kepala Balai Litbang Teknologi Agroforestry Ciamis
Purnatugas Bukanlah Akhir Seseorang Untuk Terus Berkarya
Potensi Pengembangan Agroforestry Manglid, Sengon dan Kacang Tanah
Strategi Menentukan Daur Optimal Hutan Tanaman Sengon


Created By @Balai Penelitian Teknologi Agroforestry (BTPA) Ciamis