Home | Profil | Penelitian Kami | Publikasi | Prosiding | Kerjasama Penelitian | Sarana & Prasarana | Kontak Kami | Download | Galery

01-02-2017.130041 | Dilihat : 362 x
Penanaman Nyamplung pada Lahan Pantai Berpasir Memerlukan Teknologi Yang Tepat

(BPPTA Ciamis, 1/02/2017)_Upaya untuk meningkatkan kualitas lahan pantai memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu penanaman nyamplung pada lahan pantai berpasir memerlukan teknologi yang tepat agar mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi. Hal itu disampaikan oleh Aditya Hani, S.Hut., M.Sc., peneliti Balai Litbang Teknologi Agroforestry dalam karya tulis ilmiahnya yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 5 No.2, Agustus 2016: 151-158.

Hany menjelaskan bahwa seiring dengan pengembangan energi terbarukan, maka mulai dibudidaya jenis-jenis penghasil bioenergi salah satunya adalah nyamplung. Namun perlu diketahui bahwa informasi mengenai teknik budidaya dan pengolahan nyamplung masih sangat terbatas. Padahal, menurut hany, pengembangan hutan tanaman nyamplung pada lahan pasir pantai mempunyai potensi yang tinggi karena Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang dan karena tanaman nyamplung secara alami tumbuh di daerah pantai.

Namun sangat disadari bahwa minat masyarakat pesisir untuk menanam nyamplung masih rendah karena pemasaran biji nyamplung masih terbatas. Selain itu bagi petani hasil dari buah nyamplung membutuhkan waktu yang cukup lama.

Terkait hal tersebut, Hany merekomendasikan penanaman nyamplung perlu dilakukan dengan pola agroforestri sebagai upaya dalam meningkatkan keberhasilan pelaksanaan rehabilitasi lahan pantai. Menurutnya, pola ini mampu mengakomodir aspek ekologi terutama peningkatan kesuburan lahan dan juga memberikan keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Masyarakat pesisir mau mengadopsi suatu teknologi konservasi jika petani memperoleh manfaat secara ekonomi dari kegiatan tersebut,”tegas Hany.

Oleh karena itu dalam penanaman nyamplung perlu dikombinasikan dengan jenis tanaman semusim melalui pola agroforestri sehingga masyarakat dapat memperoleh hasil antara, jelas Hany.

Untuk menjelaskan pernyataan tersebut, Hany membuat Demplot Penelitian pola tanam nyamplung yaitu: pola tanam A (agroforestry nyamplung + tanaman semusim (kacang tanah pada tahun ke-1 dan 2, jagung tahun ke-3 dan kedelai tahun ke-4), pola tanam B (pola tanam nyamplung monokultur) dan pola tanam C (nyamplung+pandan laut). Perlakuan yang diberikan terhadap ketiga pola tanam adalah pengaturan dosis pupuk yakni : dosis 0 ( kontrol), dosis 1 (pupuk organik 5 kg+NPK 100 gr/tanaman) dan dosis 2 (pupuk organik 10 kg+NPK 200 gr/tanaman).

Hasil penelitian di lahan pasir pantai yang terletak di Desa Babakan Pangandaran, ternyata menujukkan bahwa pertumbuhan tanaman dipengaruhi secara nyata oleh pola tanam dan faktor pemupukan.

“Pola tanam agroforestri nyamplung umur 4 tahun menghasilkan persen hidup dan pertumbuhan tertinggi yaitu 97,33% dengan tinggi rata-rata 220 cm dan diameter rata-rata 5,08 cm bila dibandingkan pola tanam monokultur nyamplung dan nyamplung+pandan,” kata Hany.

Selanjutnya hany merekomendasikan pengaturan dosis pupuk terkait dengan lahan pasir pantai yang mempunyai sifat tanah tidak stabil, lengas tanah rendah, evapotranspirasi tinggi, kandungan garam tinggi, kandungan bahan organik dan unsur hara rendah.  

“ Penggunaan pupuk yang direkomendasikan adalah 5 kg pupuk organik sebagai pupuk dasar dan 100 gram pupuk NPK/tanaman sebagai pupuk lanjutan sebanyak 2 kali setahun. Salah satu upaya perbaikan sifat fisik dan kimia tanah berpasir dengan cara penambahan tanah mineral dan pemupukan,” ,’ jelas Hany.

Dijelaskan bahwa pola tanam agroforestri memberikan pertumbuhan terbaik karena pada pola tanam agroforestri, keberadaan tanaman semusim akan memberikan manfaat bagi tanaman nyamplung.

“Pada kondisi iklim daerah pantai yang ekstrem, keberadaan pohon dan tanaman semusim akan saling memberi pengaruh yang positif. Pohon menciptakan iklim mikro yang lebih kondusif dengan menurunkan temperatur udara, mengurangi kecepatan angin laut dan adanya jatuhan serasah,” jelas Hany.

“Keberadaan tanaman semusim jenis kacang-kacangan mempunyai pertumbuhan cepat, dapat berfungsi sebagai penutup tanah, sehingga tanah menjadi lebih lembab, proses penguapan menjadi lebih sedikit sehingga air menjadi lebih tersedia di dalam tanah, “ kata Hany melanjutkan penjelasannya.

Menurut Hany, pola agroforestri nyamplung sebaiknya dikembangkan dengan menanam tanaman jenis legum (kacang tanah, kedelai).

“Interaksi positif dari adanya tanaman bawah adalah adanya pemupukan pada tanaman semusim berupa pupuk organik (4 ton per hektare per tahun) dan pupuk kimia akan meningkatkan terutama kandungan bahan organik serta kesuburan kimia lahan agroforestri secara umum, dibandingkan kedua pola tanam yang lain dengan pemberian bahan organik yang hanya berlangsung pada awal penanaman, tegas Hany.

Lebih lanjut hany menjelaskan bahwa kesuburan tanah pasir pantai dapat meningkat dengan cara menanam jenis legum dengan non legum secara bersamaan karena terjadinya proses fiksasi nitrogen dan penambahan bahan organik dari adanya serasah.

Dengan adanya input teknologi berupa pola tanam agroforestry dan pengaturan dosis pupuk, hany berharap masyarakat berminat untuk gencar menanam nyamplung karena pola tanam agroforestri dengan tanaman semusim jenis kacang-kacangan (legum) terbukti mampu tumbuh pada lahan pasir yang miskin hara sehingga  dapat memberikan pendapatan antara/nilai tambah bagi petani. Selain itu, hany juga berharap perlunya sosialisasi lebih luas akan pentingnya pengembangan energi terbarukan jenis nyamplung sehingga mendorong minat masyarakat untuk menanamnya. 

  Judul Berita
Kontribusi BP2TA Ciamis dalam Peningkatan Kualitas SDM Siswa Siswi SMK Rimba Bahari Sumedang
Upacara Hari Kesaktian Pancasila Lingkup Balai Litbang Teknologi Agroforestry Ciamis
Pembahasan Rencana Operasional Penelitian Tahun 2017 Balai Litbang Teknologi Agroforestry
Pola Tanam Agroforestry Mampu Mengakomodir Kepentingan Lingkungan Dan Sosial Ekonomi
Penanaman Nyamplung pada Lahan Pantai Berpasir Memerlukan Teknologi Yang Tepat
Penerapan Teknologi Agroforestry Kompleks Berbasis Pangan Sangat Mendesak
Serah Terima Jabatan Kepala Balai Litbang Teknologi Agroforestry Ciamis
Purnatugas Bukanlah Akhir Seseorang Untuk Terus Berkarya
Potensi Pengembangan Agroforestry Manglid, Sengon dan Kacang Tanah
Strategi Menentukan Daur Optimal Hutan Tanaman Sengon


Created By @Balai Penelitian Teknologi Agroforestry (BTPA) Ciamis