KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id
  Home | Profil | Penelitian Kami | Publikasi | Prosiding | Kerjasama Penelitian | Sarana & Prasarana | Kontak Kami | Download | Galery

24-08-2021.155720 | Dilihat : 197 x
Prospek Pengembangan Talas Beneng Dengan Sistem Agroforestry

(BPPTA Ciamis_24/08/2021)_  Talas-talasan termasuk dari famili Araceae yang merupakan tumbuhan penghasil umbi-umbian dengan nilai manfaat tinggi.  Dahulu, pemanfaatan talas lebih dominan pada umbi nya saja.  Sebagai contoh, di Kota Bogor banyak dijumpai para penjual umbi talas yang bahkan dikenal sebagai “talas Bogor”.  Salah satu dari talas-talasan yang memiliki beraneka manfaat bagi masyarakat adalah talas beneng (Xanthosoma undipes K. Kock).  Saat ini, setiap bagian tanaman, baik umbi, batang, dan daun talas dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan berbagai produk.  Umbi dan pelepah daun talas beneng memiliki kandungan gizi yang tinggi sebagai sumber pangan.  Selain dapat dikonsumsi langsung, umbi talas beneng berpotensi sebagai bahan baku pembuatan tepung, keripik dan berbagai produk lainnya.  Oleh karena itu talas beneng dapat dikelompokan sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dikelola bersama dengan kayu dalam hutan rakyat agroforestri.

Diawali dari kegiatan temu wicara/ talk show “Peluang Usaha Budidaya Talas Sistem Agroforestri” yang diselenggarakan oleh DPC HA IPB Kabupaten Sukabumi pada tanggal 28 Juli 2021 dengan salah satu narasumber Endah Suhaendah, S.P., MIL peneliti Balai Litbang Teknologi Agroforestri (BPPTA) Ciamis, diperoleh informasi pemanfaatan talas-talasan sudah berkembang lebih jauh yaitu pemanfaatan talas tidak hanya terbatas pada umbinya saja, tetapi daunnya pun memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.  Umbi talas beneng berpotensi berkontribusi meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, sedangkan daun talas beneng merupakan komoditi ekspor yang potensial meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan permintaan talas beneng untuk konsumsi rumah tangga dan pasar ekspor tentunya mendorong kegiatan usaha tani  hutan rakyat agroforestri berbasis talas beneng.
 
Dalam rangka memperkuat kegiatan penelitian yang sedang dikerjakan BPPTA Ciamis maka dilakukan kunjungan oleh Kepala Balai dan peneliti BPPTA Ciamis ke hutan rakyat di Kabupaten Sukabumi pada tanggal 18 – 21 Agustus 2021.  Berdasarkan hasil koordinasi dan diskusi dengan Kepala Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah III Sukabumi yang didampingi oleh pejabat struktural dan fungsional penyuluh, terdapat semangat yang tinggi dari CDK Wilayah III dalam pengembangan hutan rakyat agroforestri.  Hal ini ditunjukkan dengan mulai disusunnya “blue print” agroforestri pada  setiap kecamatan  berdasarkan potensi yang dimiliki.  Harapan ke depan kegiatan agroforestri dapat terdokumentasikan dengan baik mulai dari aspek potensi hutan rakyat, stakeholder, kelompok tani, karakteristik lokasi dan luasan lahan binaan. Pada kesempatan diskusi, Sumitra Gunawan Kepala BPPTA Ciamis memberikan masukan dalam penyusunan dokumen tersebut dapat melibatkan peneliti dari Kelompok Peneliti (KELTI) BPPTA Ciamis.  Selain itu ujarnya, permasalahan yang sering dihadapi adalah pemasaran produk hasil usaha tani agroforestri.  Salah satu solusi adalah perlunya kebijakan minimal dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat untuk menginstruksikan kepada semua jajaran CDK dan rimbawan di Jawa Barat untuk memanfaatkan produk-produk agroforestri dari wilayahnya masing-masing.  Sebagai contoh untuk penyajian minuman di kantor dapat memanfaatkan produk lokal misalnya penggunaan gelas bambu hasil binaan CDK.
 
Pada sektor hulu, diperlukan protokol pengelolaan hutan rakyat agroforestri agar dapat meningkatkan produksi tanaman bawah yang berada di bawah tegakan. Hal ini untuk tetap menyediakan faktor-faktor yang menjadi kebutuhan tanaman bawah (sinar matahari, unsur hara, dan air) ujar Aris Sudomo.  Protokol dalam pengelolaan hutan rakyat agroforestri adalah pemilihan komoditi dengan kelayakan tinggi (finansial dan teknis), pemilihan tanaman bawah tahan naungan (umbi-umbian, jahe, kopi, dan kapulaga), aplikasi pruning dan thinning pohon serta input pemupukan untuk meminimalisir kompetisi (sinar matahari, unsur hara, dan air) antara tanaman penyusun.  Harapannya dengan luasan hutan rakyat di Sukabumi (0.25 - 0,5 ha/ keluarga) akan mengubah dari budidaya agroforestri tradisional (subsisten dan individual action) ke arah budidaya agroforestri modern (komersialisasi dan collective action).  Pada akhirnya intensifikasi agroforestri pada hutan rakyat diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan dan berkontribusi bagi ketahanan pangan nasional, pungkas Aris Sudomo. 
 
Selanjutnya didampingi oleh Lilis Rahmayati Penyuluh Kehutanan CDK Wilayah III Sukabumi, kami melakukan kunjungan ke Kelompok Tani Hutan Babakan Tani Sejahtera (BTS) Desa Cicantayan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten sukabumi.  Kami diterima dengan sangat ramah dan diperkenalkan dengan jenis talas beneng oleh Rusdiantoro Ketua Kelompok BTS dan Achmad Alimi Penggiat Talas.  Kami ditunjukkan pengolahan talas beneng mulai dari hulu sampai dengan hilir. Penasaran dengan nama talas beneng, kemudian kami mencoba searching melalui google dan ditemukan melalui kanal Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian bahwa talas beneng lebih dikenal dengan sebutan talas Banten dengan nama beneng yang merupakan singkatan dari besar dan koneng yang artinya berukuran besar dan berwarna kuning.  Berasal dari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, talas ini menjadi salah satu komoditi bahan pangan pokok di Provinsi Banten selain beras dan aneka umbi.  Meskipun kenyataannya talas beneng banyak ditemukan di beberapa hutan rakyat pegunungan di Jawa Barat.
 
A. Budidaya Talas Beneng Oleh KT Babakan Tani Sejahtera
Sumber bibit talas beneng diambil dari anakan alam yang tumbuh di lahan-lahan hutan pegunungan.  Pembibitan talas beneng kebanyakan menggunakan tunas umbi.  Bibit talas beneng ada 2 macam yaitu bibit biasa dan bibit mahkota.  Bibit mahkota kualitas lebih bagus karena merupakan bagian utama dari tanaman berupa umbi dan batang.  Sedangkan bibit biasa berasal dari tunas dan umbi yang tumbuh dari bagian utama tanaman talas beneng.  Meskipun keberadaan bibit talas beneng banyak terdapat secara alami di lahan-lahan pegunungan tetapi masih banyak didatangkan dari sumber bibit di Kabupaten Pandeglang. Harga bibit mahkota bisa mencapai Rp 5.000,-/ bibit sedangkan bibit biasa Rp 2.500,-/ bibit. 
 
Kami di Cicantayan diajak ngabolang di kebun/hutan rakyat binaan KT KT BTS.  Tanaman bawah yang mudah tumbuh adalah talas beneng.  Luas total agroforestri talas beneng seluas 4 Ha yang tersebar dalam beberapa spot hutan rakyat/kebun buah-buahan.  Jenis talas-talasan banyak tumbuh secara alami atau dibudidayakan oleh masyarakat baik di halaman/ pekarangan rumah atau di kebun – kebun masyarakat.  Berdasarkan hasil observasi lapangan, talas beneng bisa ditanam pada tempat terbuka (monokultur) dan tempat ternaungi pepohonan (agroforestri).  Pada tempat terbuka/monokultur, cenderung mudah tumbuh alang-alang sehingga mengganggu pertumbuhan talas beneng.  Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pertumbuhan talas beneng di bawah tegakan kayu (menghasilkan daun lebar dan batang tinggi) sedangkan  pada tempat terbuka (daun kecil dan batang pendek). (video di link https://bit.ly/TalasBeneng).  Tingkat naungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan talas beneng dalam pola agrofrestri adalah ± 40%.  Meskipun demikian belum di temukan produktivitas dan kualitas umbi yang diproduksi antara tempat terbuka dibandingkan tempat ternaungi di bawah tegakan.  Belum diketahui juga secara pasti kualitas umbi dari tanaman yang sering dipanen daunnya dengan yang tanpa pengambilan daun.  Berdasarkan pengamatan di lapangan, dapat ditunjukkan bahwa tanaman relatif sehat atau sedikit terserang hama dan penyakit sehingga upaya pengendalihan hama dan penyakit bersifat accidental.
 
Tegakan kayu penyusun agroforestri beranekaragam diantaranya adalah sengon, suren, manggis, gmelina, kelapa, dan lain-lain.   Sebelum ditanami talas beneng, lahan tersebut hanya merupakan tegakan kayu dengan dominasi kebun manggis dan pohon penghasil kayu. Potensi pasar yang menjanjikan dari talas beneng mendorong untuk dilakukannya usaha tani talas beneng di bawah tegakan.  Keberadaaan pohon dan talas beneng dalam suatu lahan akan mendorong kelestarian hutan rakyat (sosial, ekonomi, dan lingkungan) sebagaimana dijelaskan dalam link video https://bit.ly/TalasBeneng2
 
Penanaman talas beneng dilakukan pada musim kemarau dan kebanyakan dipilih pada areal di bawah tegakan yang ternaungi pohon.  Kelembaban, ketersediaan air, dan naungan menjadi penting untuk faktor pertumbuhan talas beneng.  Penanaman di lapangan dilakukan dengan pengolahan lahan minimal pada areal lubang tanam.  Ukuran lubang tanam sebesar lebar cangkul sekitar 20 – 30 cm.  Jarak tanam yang digunakan adalah 1 m x 1 m.  Dengan jarak tanam 1 m x 1 m maka jumlah tanaman total/ ha adalah 10.000 tanaman jika dilakukan dengan pola monokultur. Pada tempat agroforestri jumlah tanaman talas akan berkurang karena lahan digunakan untuk ruang tumbuh tegakan kayu.  Kita mengasumsikan adalah 80 % dari luasan lahan bisa ditanami talas beneng sehingga terdapat 8000 tanaman/ ha.  Tanaman talas beneng relatif mudah tumbuh sehingga tidak terdapat aplikasi pupuk dasar.  Pemupukan baru dilakukan pada saat tanaman berumur 3 bulan atau sewaktu panen pertama daun dengan pupuk kandang 200-500 gram/ tanaman.  Intensitas kegiatan penyiangan pun relatif rendah karena pertumbuhan gulma alang-alang terbatas pada lahan di bawah naungan tegakan. 
 
Tanaman talas beneng bisa bertahan bertahun-tahun dan akan tetap dipertahankan sepanjang masih memproduksi daun.  Panen daun pertama, ketika tanaman berumur 3 bulan.  Setelah 3 bulan pasca tanam, daun bisa dipanen setiap 2 minggu sekali.  Total panen dalam setahun bisa mencapai 18 kali panen dengan rata-rata berat 1 daun hasil panen talas beneng adalah 200 gram pada panen awal.  Berat daun akan meningkat hingga kisaran 500 gram/ daun pada panen tahap selanjutnya seiring bertambah umur talas.  Tanaman yang telah diambil daunnya akan tumbuh lagi/ regenerasi lagi daun baru seterusnya sampai tanaman tidak produktif. 
 
Untuk panen umbi akan berkualitas baik pada umur 12 bulan s/d 24 bulan.  Tanaman talas beneng diperkirakan bisa berproduksi daun sampai umur 5 tahun.  Kandungan oksalat pada umbi akan semakin tinggi dengan semakin tuanya umur tanaman talas beneng. Talas varietas merah akan lebih banyak mengandung oksalat dibandingkan tanaman talas beneng. 
 
B. Pengolahan Produk Pasca Panen
Talas beneng merupakan diversifikasi pangan yang diharapkan akan berkontribusi bagi ketahanan pangan nasional.  Umbi talas beneng potensial memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan pasar lokal.  Harga umbi hasil panen adalah sekitar 1500/ kg.  Oleh karena itu untuk meningkatkan nilai produk, KT Babakan Tani Sejatera telah melakukan pengolahan pasca panen dengan memproduksi keripik dan tepung dari bahan baku umbi.  KT BTS telah mampu melakukan pengolahan pada umbi yang mengandung oksalat.  Hasil keripik dan tepung umbi telah terbukti dapat dimakan dengan aman, bergizi dan kualitasnya tidak kalah dengan produk lainnya.  Selain itu batang dari talas beneng dapat diolah menjadi makanan.  Informasi awal mengatakan bahwa permintaan akan batang talas beneng datang dari Korea. Berdasarkan informasi KT BTS, batang daun talas beneng bisa menjadi bahan baku makanan dan dieksport ke Korea.  Harga batang  talas beneng  ditempat Rp 3000,- s/d Rp 4000,-/ kg.  Batang daun talas kering dikirim ke Temanggung dengan harga berkisar Rp 6000/kg (https://bit.ly/TalasBeneng3).  
 
C. Strategi Pengembangan Talas Beneng
Beberapa faktor menjadi kekuatan usaha tani talas beneng di Desa Cicantayan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi adalah (1) pengetahuan KT Babakan Tani Sejahtera mulai dari produksi bahan baku sampai dengan pengolahan pasca panen; (2) Collective action dari masyarakat Desa Cicantayan; dan (3) Keberadaaan lahan yang potensial untuk budidaya talas beneng.  Faktor yang menjadi hambatan usaha tani talas beneng adalah kurangnya modal usaha sehingga diperlukan investor untuk menanamkan modalnya.  Hal yang bisa dilakukan adalah menarik investor agar tertarik investasi dalam pengembangan hutan rakyat agroforestri berbasis talas beneng.  Hal ini juga perlu mewasdai ancaman akan kontinyuitas permintaan pasar ekspor dari komoditi talas beneng.  Ketergantungan dengan pasaran ekspor perlu diantisipasi dengan melakukan penjajagan untuk membuka pasaran lokal atau nasional.  Meskipun umbi talas beneng bisa dikonsumsi oleh rumah tangga petani dalam memenuhi kebutuhan pangan tetapi keberlanjutan pasar ekspor terhadap permintaan batang dan daun masih menjadi prioritas utama.  Langkah-langkah antisipasi adalah mengembangkan pasar talas beneng baik untuk tingkat lokal, nasional maupun luar negeri. 
 
Keunggulan absolut berupa sumber daya alam dan lahan yang merupakan daerah tropis perlu dimaksimalkan dengan pengembangan budidaya agroforestri.  Hal ini akan mencapai keunggulan kompetitif seiring dengan upaya pemberdayaan masyarakat.  Pemberdayaan masyarakat untuk mencapai peningkatan skill, knowledge dan attitude dari KT BTS.  Hal ini dilakukan dengan delivery sarana dan prasarana produksi, pelatihan, penguatan kelembagaan dan dukungan inovasi hasil penelitian yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dengan teknologi berbasis science.  Perpaduan pengetahuan masyarakat berbasis pengalaman petani dan pengetahun berbasis science akan meningkatkan keunggulan kompetitif masyarakat.  Dengan keunggulan kompetitif yang dimiliki akan mampu menghasilkan produk berkualitas dan mampu bersaing dengan produk lainnya.  Produk-produk talas beneng tersebut juga potensial mempunyai keunggulan komparatif dengan ciri khas bahan baku talas beneng yang dominan di Jawa Barat melalui sentuhan inovasi produk dan tidak ditemukan di daerah lain.  
 
Usaha tani agroforestri talas beneng sangat potensial mencapai kelestarian. Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu merupakan peluang usaha yang lebih lestari dalam pengelolaan hutan.  Hal ini ditunjukkan dari manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial dari usaha tani agroforestri talas beneng.  Pengelolaan talas beneng dari hulu dan hilir menjadi bukti bahwa petani mempunyai kapasitas dalam memproduksi komoditi ekspor berdasarkan pengetahuan lokal.  Selain itu, potensi diversifikasi pangan untuk kebutuhan pangan rumah tangga dan pasaran nasional sudah dilakukan oleh masyarakat.  Oleh karena itu, dukungan kebijakan dan kontinyuitas pemasaran akan menentukan pengembangan agroforestri talas beneng.  Dukungan dari pemerintah, swasta, perbankan dan media akan sangat diperlukan dalam pengembangan usaha agribisnis talas beneng untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Pada akhirnya, agroforestri talas beneng potensial menjadi metode untuk mewujudkan hutan lestari dan masyarakat sejahtera (SG & AS).
 
 
  Judul Berita
PERKUAT KERJA SAMA DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN, BPPTA CIAMIS BERKOORDINASI DENGAN MITRA KERJA DI KABUPATEN SUMEDANG
Balai Litbang Teknologi Agroforestry Turut Mensukseskan Gelaran The 6th International Conference of Indonesia Forestry Researchers (INAFOR) 2021
Kunjungan Kerja Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Standarisasi dan Instrument Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Tatar Galuh Ciamis
BPPTA Ciamis Bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Bersinergi dalam Menggelar Webinar Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan
Bangun Budaya Kerja yang Baik, BPPTA Ciamis Mulai Menerapkan Dialog Kinerja
Prospek Pengembangan Talas Beneng Dengan Sistem Agroforestry
Bank Syariah Indonesia Dukung Pengembangan Arboretum BPPTA Ciamis
Partisipasi Balai Litbang Teknologi Agroforestry (BPPTA) Ciamis Dalam Rangkaian Hari Bhakti Rimbawan 2021
BPPTA Ciamis Turut Berpartisipasi dalam kegiatan Konsolidasi Rencana Program dan Kegiatan Transisi BLI ke BSI LHK
BP2TA Selenggarakan Pembahasan Laporan Hasil Penelitian (LHPt) dan Laporan Hasil Pengembangan (LHPg)


Created By @Balai Penelitian Teknologi Agroforestry (BTPA) Ciamis