KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id
  Home | Profil | Penelitian Kami | Publikasi | Prosiding | Kerjasama Penelitian | Sarana & Prasarana | Kontak Kami | Download | Galery

01-11-2021.085929 | Dilihat : 156 x
BPPTA Ciamis Terlibat dalam Pengembangan Agroforestri di DAS Saddang Sulawesi Selatan
(BPPTA Ciamis_01/11/2021)__Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan (KAPABEL) bekerja sama dengan Kemitraan (The Partnership for Governance Reform) pada tanggal 27-29 Oktober 2021 mengadakan kegiatan Pelatihan Teknis Pengelolaan Hutan Model Agroforestri pada beberapa kelompok tani hutan di Kabupaten Enrekang, Kabupaten Tana Toraja, dan Kabupaten Tora Utara Provinsi Sulawesi Selatan. Masyarakat yang terlibat dalam pelatihan, saat ini sedang mengajukan proses perizinan skema Perhutanan Sosial. Pengetahuan masyarakat dalam melakukan penggarapan lahan pada kawasan hutan hanya berbekal pada pengalaman/praktek secara turun temurun, sehingga diharapkan melalui pelatihan teknis pengelolaan hutan model agroforestry ini, masyarakat dapat mendapatkan berbagai pengetahuan baru yang bisa diterapkan dalam pengelolaan agroforestrinya.
 
Luas kawasan hutan pada 3 kabupaten (Toraja Utara, Tana Toraja, dan Enrekang) intervensi seluas 7.442 ha khususnya pada desa-desa yang menjadi sasaran program. Secara topografi, kawasan hutan di wilayah hulu berupa pegunungan dan bukit. Sedangkan pada tingkat kelerengan pada kisaran 20%-40% dengan ketinggian  dari 300 – 1300 mdpl. Secara klasifikasi tutupan lahan, pada umumnya didominasi oleh hutan sekunder, pertanian lahan kering, pertanian campuran dan semak belukar, dimana masyarakat telah mengelola didalam kawasan hutan untuk pemenuhan kebutuhan. Pada kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja, kawasan hutan telah didominasi oleh jenis tanaman kopi, kakao, cengkeh dan vanili serta pepohonan berupa buangin, uru, pinus dan lain-lain. Sedangkan pada kabupaten Enrekang, beberapa desa telah melakukan alif fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi lahan pertanian khususnya dengan komoditi jagung, namun juga memiliki kawasan hutan dengan klasifikasi hutan sekunder dengan didominasi oleh aren, kemiri, pala dan kakao serta pepohonan berupa tanaman jati.
 
Kegiatan ini dilakukan pada 3 lokasi yakni di Desa Tungka Kecamatan EnrekangKabupaten Enrekang yang dihadiri oleh 21 orang terdiri dari perwakilan KPH dan perwakilan kelompok tani dari 3 desa binaan lembaga Kapabel, di Desa Paku Kecamatan Masanda Kabupaten Tana Toraja dihadiri oleh 21 orang terdiri dari perwakilan KPH dan perwakilan kelompok tani dari 3 desa, dan di Desa Sapan Kua-Kua Kecamatan Buntao Kabupten Toraja Utara yang dihadiri oleh 30 orang pesertwa perwakilan KPH dan perwakilan pengurus kelompok dari 4 desa binaan Lembaga Kapabel.
 
BPPTA Ciamis merupakan narasumber utama dalam pelatihan ini yang diwakili oleh Aditya Hani (kepakaran silvikultur) dan Sanudin (kepakaran sosial ekonomi). Materi terkait Silvikultur Agroforestri disampaikan oleh Aditya Hani.  Dalam paparannya, Aditya Hani menyampaikan bahwa silvikultur agroforestri berkaitan dengan pemilihan jenis tanaman, pengaturan ruang tumbuh, dan pemeliharaan.  Lebih lanjut juga disampaikan beberapa upaya peningkatan produktivitas agroforestri seperti: a) berbasis pada komoditas yang ditanam dibawah tegakan kanopi yang beragam, b) rehabilitasi lahan pertanian sebagai bagian dari menjaga hutan yang tersisa melalui penerapan pertanian organik, dan c) memaksimalkan penggunaan yang bijaksana dari pengendalian secara biologi, dan pengendalian hama penyakit terpadu.
 
 
Sanudin yang menyampaikan materi terkait sosial ekonomi dan kelembagaan agroforestri memaparkan beberapa hal seperti: a) empat aspek dasar yang mempengaruhi petani menerapkan atau tidak menerapkan agroforestri yakni kelayakan, keuntungan, dapat tidaknya diterima, dan keberlanjutan; b) kelembagaan, pasca panen dan pasar hasil agroforestri yang berkaitan dengan lembaga yang terlibat dalam pengelolaan agroforestri, pentingnya lembaga, pentingnya berkelompok, upaya yang dilakukan agar kelompok tani sukses, dan upaya pengolahan hasil agroforestri untuk meningkatkan nilai tambah.  Materi lain yang disampaikan terkait hasil penelitian yang berkaitan dengan pengenalan pemasaran dan pengolahan pasca panen kopi dengan mengambil pelajaran dari Provinsi Lampung, materi terkait kopi disampaikan karena sebagaian besar petani di Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja membudidayakan kopi pada kawasan hutan.
 
 
Bagi BPPTA Ciamis, kegiatan pelatihan agroforestri ini bisa dijadikan sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan BPPTA Ciamis dan menyampaikan pengalaman dan hasil-hasil litbangnya.  Antusiasme peserta terlihat tidak hanya dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada kedua narasumber pada saat sesi tanya jawab berlangsung, namun juga pada saat sesi rehat/santai karena sebagai praktek lama, ternyata ilmu dan teknologi agroforestri belum banyak diketahui oleh peserta pelatihan ini. Hasil-hasil Litbang BPPTA Ciamis berdasarkan hasil evalusi terhadap pertanyaan peserta ada yang secara langsung bisa diterapkan di lapangan ataupun dengan sedikit modifikasi karena perbedaan kondisi topografi dan sebagainya.