KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id
  Beranda | Profil | Publikasi | Sarana & Prasarana | Kontak Kami | Download | Galery

24-12-2021.101813 | Dilihat : 202 x
BPPTA Ciamis dan ICRAF Membangun Demplot Agroforestry Untuk Peningkatan Fungsi Ekosistem dan Kesejahteraan Masyarakat di Gunungkidul
(BPPTA Ciamis, 23/12/2021)_Dalam rangka melakukan evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan penelitian dan untuk persiapan exit strategy Project Kannopi 2 yang akan berakhir pada bulan Desember 2021, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry (BPPTA) Ciamis -Sumitra Gunawan- beserta tim monev meninjau demontrasi plot (demplot) penelitian  yang berada di Desa Semin, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta pada Jumat (17/12/2021). 
 
Demplot penelitian tersebut terdiri dari dua demplot yakni  Intercropping 4 (empat) Jenis Kayu Cepat Tumbuh Untuk Campuran Jati di Gunungkidul dan Intercropping 3 (tiga)  Jenis Umbi Tahan Naungan pada Tegakan Jati Untuk Ketahanan Pangan Masyarakat di Gunungkidul. 
 
Pembangunan demplot penelitian merupakan bagian dari proyek berjudul “The Developing and promoting market-based agroforestry options and integrated landscape management for smallholder forestry in Indonesia” yang dilaksanakan oleh BPPTA Ciamis dan ICRAF secara Participatory Action Research bersama Kelompok Tani Tunas Lestari sejak tahun 2018 dengan biaya Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) melalaui (Kanoppi2) Project (FST/2016/141).
 
Kegiatan evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan penelitian diawali dengan kunjungan lapangan pada Plot Intercropping 4 (empat) Jenis Kayu Cepat Tumbuh Untuk Campuran Jati dengan dipandu oleh Aris Sudomo dan tim penelitinya serta didampingi oleh Ketua Kelompok Tani Tunas Lestari, -Jujur Achmad-.
 
Sambil mengamati pertumbuhan 4 (empat) jenis cepat tumbuh yang baru berumur 3 tahun yaitu Acacia, Jabon, Sengon dan Gmelina sebagai pendamping Jati, Kepala Balai menyampaikan pandangannya bahwa 4 (empat) jenis tersebut dapat menjadi pilihan masyarakat untuk mengoptimalkan lahan-lahan milik yang didominasi dengan Jati (pohon pokok).  “Sehingga pemilik lahan/kebun, dapat menikmati hasil awal dari 4 (empat) jenis cepat tumbuh tersebut,” kata Sumitra.
 
Lebih lanjut Sumitra menyampaikan bahwa agar demplot dipelihara dan dijaga sampai bisa panen sehingga bermanfaat langsung kepada petani pemilik lahan. “Berdasarkan evaluasi pertumbuhan di lapangan, saya berharap metode intercropping jenis kayu cepat tumbuh  untuk di campur dengan Jati dapat diadopsi oleh kelompok tani, ujar Sumitra. 
 
Jujur Achmad dalam dialognya dengan kepala balai menyampaikan bahwa urutan permintaan pasar mulai dari yang terbesar adalah Jati, Acacia mangium, Sengon, Gmelina dan Jabon. “Kayu Acacia mangium bernilai pasar relative tinggi untuk kayu pertukangan karena bermotif mirip jati.”ujar Ahmad. 
 
Sementara Aris Sudomo menyarankan agar commercial thinning dilakukan dengan cara dengan menebang kayu cepat tumbuh pada umur 5-7 tahun dengan pola tanam campuran selang seling antara jati dengan jenis kayu cepat tumbuh
 
Evaluasi dilanjutkan dengan berkunjung ke plot ke-2 yaitu  Optimalisasi Lahan Dibawah Tegakan Jati Dengan Agroforestry Umbi-Umbian Untuk Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat. Dewi Maharani salah seorang peneliti BPPTA Ciamis pelaksana penelitian ini menjelaskan pemilihan tanaman umbi Ganyong ditentukan berdasarkan nilai Land Equvalent Ratio yang lebih besar dari 1 dan produktivitas Ganyong di bawah tegakan Jati tidak menurun dibanding tempat terbuka. 
 
Mendengar penjelasan peneliti, Sumitra menekankan agar pemilihan umbi-umbian dengan pola agroforestry di bawah tegakan Jati memiliki nilai  manfaat bagi masyarakat dan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan dalam budidaya umbi dibawah tegakan jati dan memberikan alternatif jenis umbi-umbian yang bermanfaat bagi masyarakat dan industri.  
 
Selanjutnya Aris Sudomo menambahkan bahwa untuk peningkatan produksi umbi dan kayu jati dalam pola agroforestry diperlukan pruning dan singling untuk ruang pertumbuhan tanaman. “Hal ini jarang dilakukan petani karena enggan mengurangi jumlah tegakan pohon jati yang ditanam rapat. Dengan adanya tanaman umbi -umbian dibawah tegakan jati, tindakan pruning dan thinning akan memperbesar intensitas cahaya yang masuk kebawah tegakan dan memberikan ruang tumbuh bagi jati yang tersisa,“ kata Aris.
 
Ketua Kelompok Tani Tunas Lestari juga menjelaskan bahwa selama ini ada Industri Rumah Tangga (IRT) dan koperasi yang dikelola Ibu-Ibu di Desa Semin terlibat dalam  pembuatan tepung berbahan baku umbi Garut dan Ganyong. Umbi Gembili masih jarang tetapi keberadaaanya dapat dikonsumsi langsung untuk kebutuhan pangan masyarakat.
 
Kemudian rombongan dilanjutkan dengan melihat IRT Kerajinan Bambu berbahan baku bambu apus dan wuluh. IRT ini menghasilkan beberapa produk seperti seruling, otok-otok, gangsing, sempritan, kelontong dan lain lain. Terdapat lebih dari 20 pengrajin bambu di Dusun Mandesan dan Dusun Ngepoh, Desa Semin, Kecamatan Semin, Gunungkidul. Produk kerajinan bambu ini melayani permintaan wisatawan-wisatawan domestik maupun asing di Bali dan beberapa tempat di Indonesia. Bahkan beberapa produk diekspor keluar negeri seperti Australia. 
 
Agenda selanjutnya adalah diskusi dan refleksi perjalanan pembangunan demplot penelitian bersama petani sejak tahun 2018. Beberapa catatan dari hasil diskusi adalah Kelompok Tani (KT) masih mengharapkan adanya pendampingan dari para peneliti, KT akan merawat demplot dan memadukan antara keberadaan komoditi kerajinan, kelestarian hutan rakyat dan peningkatan income masyarakat,  KT akan melakukan transfer ilmu kepada petani lain, dan demplot akan dipasang papan nama yang berfungsi sebagai promosi hasil penelitian dan promosi wisata.
 
Di akhir kunjungan lapangan, Aris Sudomo dkk mengajak kepala balai dan tim untuk meninjau plot uji coba peningkatan produktivitas dan kualitas Bambu Apus dengan perlakuan penjarangan, pembumbunan tanah serta pemupukan organic dan anorganik di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo , Gunungkidul.  Salah seorang pemelihara plot penelitian –Subagyo- menyampaikan bahwa telah diaplikasikan perlakuan penjarangan dengan KU 1 (5 batang bambu) , KU 2 (10 batang bambu) dan KU 3 (15 Batang bambu) dengan pemupukan pupuk kendang + NPK serta pembumbunan rumpun dengan tanah. Hal tersebut dipertegas oleh Ketua Kelompok Tani –Ngatiman-, bahwa masyarakat telah mengadopsi perlakuan perbaikan manajemen rumpun bambu. ** (AS, DM, SG & DK)
 
  Judul Berita
FGD (Focus Group Discussion ) Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai
Perkuat Program Kerja BPSILHK Ciamis dengan Dinas PRKPLH Kabupaten Ciamis dan Bank Sampah Induk Ciamis
BPSILHK Ciamis dan Peneliti BRIN Bekerjasama Dengan DWP BPSILHK Ciamis Melaksanakan Kegiatan "Semarak Ramadhan"
Perkuat Jejaring Kerja dengan BTN Gunung Ciremai
BPSILHK Ciamis Kaji Penerapan Standar Instrumen Pengelolaan Bank Sampah di Jabar
Sosialisasi Tusi BPSILHK Ciamis Dalam Upaya Membangun Sinergi dan Kolaborasi
Koperasi Daya Malar Raharja (DAMAR) Menggelar Rapat Anggota Tahunan 2021
Momen Kebersamaan Hari Bakti Rimbawan Ke-39 di Kabupaten Tasikmalaya
Sosialisasi SNI Pengelolaan Pariwisata Alam dan Peluang Penerapan Standar Pengelolaan Pariwisata Alam di Jawa Barat
BPSILHK Ciamis beserta Rimbawan Ciamis Melakukan Giat Penanaman Dalam Rangka Memperingati Hari Bakti Rimbawan


Created By @Balai Penerapan Standar Instrumen LHK Ciamis